JAMU JEKO :  JAMU BERBAHAN DASAR JAHE MENIRAN KENCUR DAN SAMBILOTO SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI ANTIBIOTIC GROWTH PROMOTOR PADA AYAM BROILER

 

Peningkatan jumlah penduduk Indonesia mendorong perkembangan usaha peternakan untuk dapat menyediakan pangan yang baik kualitas dan kuantitas maupun kontinuitas guna pemenuhan konsumsi protein hewani yang aman, sehat, utuh dan halal. Tingkat konsumsi daging ayam di Indonesia jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi daging sapi. Tingginya kebutuhan akan daging ayam ini membuat para peternak berusaha untuk memenuhi permintaan dengan meningkatkan produktivitas ayam. Mengingat potensi tanaman herbal menjadi solusi bagi  permasalahan tersebut dengan mengembangkan produk feed suplemen yang berbahan dasar jahe, meniran, kencur, dan sambiloto yang dapat mempengaruhi secara sangat nyata konsumsi ransum dan kualitas karkas seperti bobot potong, bobot karkas, persentase karkas dan bahkan dapat menurunkan kolesterol karkas pada ayam broiler. Produk jamu JEKO sebagai feed suplemen kesehatan yang ditujukan untuk ternak ayam broiler, memiliki potensi bisnis berkelanjutan yang ditinjau dari beberapa aspek perbandingan dengan produk serupa, yaitu produk jamu ternak lainnya adalah harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan produk serupa. Kemasan produk berupa standing pouch dan ziplock yang aman serta menarik untuk dilihat. Bahan baku yang digunakan berasal dari bahan alam organik tanpa bahan tambahan. Dari aspek lingkungan, produk Jamu JEKO ini tidak meninggalkan residu berbahaya karena tidak mengandung bahan berbahaya dan limbah dari pembuatan ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos. Produk ini dibuat dalam bentuk jamu yang akan ditambahkan pada pakan dan air minum ayam broiler. Selain itu, untuk kedepannya Jamu JEKO diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti antibiotic growth promotor yang mampu membantu pemerintah dalam meningkatkan produktivitas ayam broiler dan mewujudkan Indonesia sebagai swasembada daging ayam. Proses produksi jamu JEKO menggunakan metode blended yakni dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring). Kegiatan pelaksanaan meliputi pembuatan konsep produksi, strategi pemasaran, pembuatan produk dari penyediaan bahan baku yang telah melalui survei pasar, pengemasan produk, promosi, penjualan, dan analisis usaha. Proses produksi dilakukan secara luring di daerah Bengkulu Selatan, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kegiatan seperti pembuatan visualisasi digital produk, desain pengemasan produk, promosi dan marketing dilakukan secara daring dengan memanfaatkan platform media sosial. Produk Jamu JEKO dipromosikan secara online melalui media sosial, bekerjasama dengan dinas peternakan, koperasi ternak unggas, rumah sakit hewan, pet shop, asosiasi ternak unggas, dan jejaring kelompok ternak. Cara promosi ini memudahkan produk Jamu JEKO untuk dikenal dan diketahui oleh masyarakat, sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakat untuk membeli produk ini. Jamu JEKO berpotensi tinggi untuk laku di pasaran mengingat tingginya minat konsumsi daging ayam di Indonesia. Rencana tindak lanjut dalam waktu dekat yang akan dilakukan yaitu pembuatan laporan akhir dan jangka menengah mempersiapkan administrasi untuk keperluan perizinan baik BPOM maupun sertifikasi halal, mempersiapkan berkas-berkas administrasi untuk membuat perizinan produk dalam bentuk hak paten terhadap merek dan hak cipta dan dilakukan pengurusan SIUP, serta mendaftarkan surat izin usaha obat hewan serta untuk jangka panjang yaitu perluasan jejaring rekan usaha.

Komentar